Written by Yodhia Antariksa
Barangkali Anda sudah pernah mendengar anekdot ini. Alkisah, di sebuah pameran International Neurology Expo di Singapore dijual replika otak asli orang Indonesia, Jepang dan Amerika. Dalam daftar harga, tertera otak manusia Indonesia berharga paling mahal. Salah seorang pengunjung dari tanah air, dengan penasaran dan setengah bangga bertanya, kenapa otak orang Indonesia harganya paling mahal. Karena jarang dipakai, begitu jawaban sang penjaga stan.
Anekdot itu terngiang kembali di otak saya ketika minggu lalu saya membaca sebuah buku bertajuk Brain Rules : Principles for Thriving at Work, Home and School. Buku yang ditulis oleh John Medina, salah satu pakar biologi saraf terkemuka asal Amerika ini, berkisah tentang sejumlah aturan bagaimana sesungguhnya otak kita berkerja dan beroperasi. Disini kita hanya mencoba menjenguk empat aturan diantaranya.
Rule 1 : Exercise Does Enhance Your Brain. Ya, berolahraga secara rutin dan melakukan pergerakan yang aktif ternyata memberikan impak yang amat besar bagi kesehatan otak. Dalam buku itu disebutkan, orang yang rajin berolahraga dan aktif bergerak dalam jangka panjang otaknya akan memiliki kemampuan problem solving dan reasoning yang jauh lebih tangguh dibanding mereka yang malas bergerak dan berolahraga.
Itulah mengapa, orang yang malas melakukan olahraga dan seharian hanya duduk didepan cubicle sambil melototin layar komputer otaknya bisa pelan-pelan tumpul dan cepat pikun kelak ketika berusia lanjut. Ini persis seperti minggu lalu ketika saya berkunjung ke salah satu teman ayah saya yang baru berusia 60-an tahun. Opa satu ini sejak muda nyaris tak pernah olahraga, demikian juga setelah pensiun. Jadi ia tak lagi mengenali saya ketika saya datang bertandang ke rumahnya yang asri di Bintaro. Dan ketika saya kebelet ingin buang air kecil serta bertanya, Om di mana kamar mandinya; dia mendadak kebingungan sambil celingukan, dimana ya kamar mandinya (duh !).
Anda tidak ingin tulalit seperti itu kan? So, do exercise every single morning. Rasakan kesegaran udara di pagi hari, dan jangan pernah biarkan otak Anda mati sebelum waktunya.
Rule 2 : Multitasking is a myth. Multitasking itu hanyalah mitos. Sebab, menurut John Medina, otak kita bekerja dengan cara sekuensial (ber-urutan) dan tidak pernah bisa dipaksa bekerja secara paralel. Itulah mengapa, mengemudikan mobil sambi berhaha-hihi via ponsel langsung meningkatkan resiko kecelakaan hingga 9 kali lipat. Dan itulah mengapa, melakukan penyelesaian tugas sambil berkali-kali mendapatkan interupsi akan menghasilkan kualitas kerja 50 % lebih buruk dan 50 % lebih lamban.
Jadi kalau selama ini Anda rajin melakukan multitasking - misalnya menyelesaikan laporan sambil tengak-tengok status via Facebook; resiko kelambanan kerja dan penurunan akurasi laporan akan kian meningkat secara dramatis. Karena itu, usahakanlah agar selalu mengerjakan tugas secara fokus dan bertahap serta semuanya digarap secara sistematis.
Rule 3 : Ten Minutes Attention Span. Medina bilang, ketika mendengarkan presentasi, ceramah, kuliah, atau mendengarkan orang lain ngecap, otak kita ternyata hanya bertahan untuk menaruh atensi maksimal 10 menit. Setelah itu, konsentrasi kita untuk mendengarkan/ menyimak turun secara signifikan. Jadi kalau ada orang yang nyerocos memberikan ceramah atau presentasi tanpa henti selama lebih dari 30 menit, maka hanya kesia-siaan yang akan diperoleh. Sebab, otak para audiens tak akan pernah bisa lagi menangkap isi informasi secara optimal.
So, kelak jika Anda mendapat kesempatan presentasi atau memberikan informasi; lakukanlah small break setelah 10 menit. Break ini bisa berupa menyilakan audiens untuk bertanya; atau menyelinginya dengan intermezo, atau menyampaikan kisah insiratif plus sekedar anekdot. Dengan ini, maka konsentrasi para audiens akan bisa kembali terpelihara.
Rule 4 atau yang terakhir adalah ini: classroom and cubicle are brain destroyers. Ya, ternyata ada dua lingkungan yang menurut Medina paling brutal membunuh daya kreasi otak kita. Dua lingkungan itu adalah : ruang kelas perkuliahan/sekolah dan ruang cubicle perkantoran.
Ruang kelas yang isinya melulu ceramah oleh dosen/guru yang monoton, satu arah dan acap membosankan, ternyata justru membuat otak kita terpasung mati (!). Ruang cubicle kantor yang membuat Anda tidak banyak bergerak secara aktif, tersekat-sekat, dan hanya memaksa Anda untuk melakukan tugas repetitif juga berpotensi menumpulkan otak Anda.
Jadi bayangkanlah : selama bertahun-tahun (lebih dari 15 tahun!) kita menghabiskan waktu kita di ruang kelas yang monoton nan membosankan. Dan kini, ketika kita bekerja, kita kembali disekap bertahun-tahun dalam ruang cubicle yang juga tidak banyak menawarkan ruang kreasi secara optimal. Dengan kata lain, selama puluhan tahun otak kita dikunci dalam dua lingkungan statis itu, dan jarang dipakai secara maksimal.
Jadi sungguh tak heran, kenapa otak kita harganya paling mahal........
Kamis, Mei 14, 2009
Selasa, Mei 12, 2009
Belajar dari Pola Pengasuhan Anak di Jepang
Di sebuah shopping arcade di pusat kota Kyoto , saat sedang menikmati
segelas cappucino sambil mengamati orang berbelanja, tiba-tiba saya
dikejutkan suara keras tangisan anak kecil. Rupanya ada gadis kecil berumur
4 tahunan tersandung dan jatuh. Lututnya berdarah. Kami heran ketika melihat
respons ibunya yang hanya berdiri sambil mengulurkan tangan ke arah gadis
kecilnya tanpa ada kemauan untuk segera meraih anaknya. Cukup lama. Beberapa
menit adegan ini berlangsung. Si ibu tetap sabar dan keras hati untuk
menunggu anaknya menyelesaikan sendiri rasa shock dan sakitnya. Setelah
beberapa menit berlalu, akhirnya si gadis kecil mulai berusaha berdiri lagi,
dan dengan bantuan kecil tangan ibunya dia kembali berdiri. Masih sambil
terisak-isak ia pun berjalan lagi.
Dalam benak saya waktu itu, kok tak punya hati ibu si gadis kecil ini? Tega
membiarkan anaknya dalam kondisi kesakitan. Ingatan langsung terbang ke
Indonesia . Jika kejadian yang sama terjadi di Kota Jakarta ataupun
Yogyakarta , saya yakin si ibu pasti akan langsung meraih dan menggendong
untuk menenangkan anaknya.
Dari adegan itu, bisa kita bayangkan perbedaan cara pengasuhan anak Jepang
dan anak Indonesia . Dari pengamatan saya selama hampir setahun tinggal di
Jepang, anak Jepang cenderung dibiasakan dari kecil untuk mengatasi berbagai
kesulitan sendiri, sementara anak Indonesia selalu disediakan asisten untuk
mengatasi kesulitannya. Babysitter atau pembantu rumah tangga pun tidak ada
dalam kebiasaan keluarga-keluarga di Jepang. Sebaliknya di Indonesia,
khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta , Bandung , Yogyakarta dan
lain-lain kehadiran mereka wajib ada sebagai asisten keluarga maupun sebagai
asisten anak-anaknya.
Dalam sebuah studi perbandingan yang dilakukan oleh Heine, Takata dan Lehman
pada tahun 2000 yang melibatkan responden dari mahasiswa Jepang dan
mahasiswa Kanada dinyatakan bahwa mahasiswa Jepang lebih tidak peduli dengan
inteligensi dibandingkan orang Kanada. Hal ini disebabkan orang Jepang lebih
menghargai prestasi didasarkan pada usaha keras daripada berdasarkan
kemampuan inteligensi. Artinya, bagi orang Jepang kemauan untuk menderita
dan berusaha keras menjadi nilai yang lebih penting daripada kemampuan dasar
manusia seperti inteligensi.
Dalam keseharian dengan mudah kita dapat menyaksikan mereka selalu berjalan
dalam ketergesaan karena takut kehilangan banyak waktu, disiplin dan selalu
bekerja keras. Suasana kompetitif dan kemauan untuk menjadi yang lebih baik
(yang terbaik) sangat menonjol. Studi ini juga menemukan bahwa orang Jepang
memiliki budaya kritik diri yang tinggi, mereka selalu mencari apa yang
masih kurang di dalam dirinya. Untuk kemudian mereka akan segera memperbaiki
diri.
Lain lagi Indonesia , yang saat ini terjebak dalam kesalahan umum di mana
hasil akhir menjadi segala-galanya. Hasil akhir lebih dihargai dibandingkan
usaha keras. Tengok saja kompetisi yang terjadi dari anak usia sekolah
tingkat SD hingga perguruan tinggi untuk mendapatkan nilai kelulusan yang
tinggi. Guru, orang tua maupun masyarakat umum selalu menekan anak untuk
mendapatkan nilai kelulusan yang tinggi, sehingga mereka pun menghalalkan
segala cara. Kita baca di koran polisi menangkap para guru karena berlaku
curang dalam ujian nasional, sementara di tempat lain orang tua membeli soal
ujian, siswa menyontek dan lain sebagainya.
Pola pengasuhan ini, pada gilirannya pasti berperan besar dalam pembentukan
karakter anak dalam perkembangan berikutnya. Oleh karenanya, memberi
kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk mengembangkan semua potensinya
adalah satu prinsip dasar dari satu pola pengasuhan yang sangat baik bagi
pembentukan karakter anak. Orang tua, asisten, atau pun orang yang lebih
dewasa jangan mengambil alih tanggung jawab anak.
Sebagai contoh, beri kesempatan pada anak untuk belajar makan secara benar
dengan tangannya sendiri sejak dia mampu memegang sendok. Jangan diambil
alih hanya karena alasan akan membuat kotor. Atau beri kesempatan pada anak
untuk menghadapi dunia sekolah pertama kali tanpa banyak intervensi dari
pengasuh maupun orang tua. Memberi rasa aman pada anak memang penting jika
diberikan pada saat yang tepat. Tetapi menunggui anak selama dia belajar di
sekolah adalah pemberian rasa aman yang tidak perlu. Momen ini adalah momen
penting bagi anak untuk belajar menghadapi dunia di luar rumah tanpa bantuan
langsung orang-orang di sekitarnya.
Pengalaman anak merasa mampu menghadapi persoalan dengan kemampuannya
sendiri akan menumbuhkan kepercayaan diri. Oleh karena itu, orang tua
sebaiknya membatasi diri hanya menjadi partner diskusi yang membantu anak
menemukan berbagai kemungkinan solusi. Orang tua kadang harus berteguh hati
membiarkan anak mengalami rasa sakit, menderita, dan rasa tertekan dalam isi
dan porsi yang tepat, karena hal itu akan sangat baik untuk perkembangan
mental anak.
Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan hidup dan
tidak mudah menyerah. Hargai anak bukan dari hasil akhirnya melainkan dari
proses perjuangannya. Anak perlu diberi pembelajaran (dan juga orang tua
perlu belajar) untuk bisa menikmati dan menghargai proses, meskipun proses
seringkali tidak nyaman.
Dr. Christina Siwi Handayani, Staf Pengajar Fakultas Psikologi, Universitas
Sanata Dharma, Yogyakarta
segelas cappucino sambil mengamati orang berbelanja, tiba-tiba saya
dikejutkan suara keras tangisan anak kecil. Rupanya ada gadis kecil berumur
4 tahunan tersandung dan jatuh. Lututnya berdarah. Kami heran ketika melihat
respons ibunya yang hanya berdiri sambil mengulurkan tangan ke arah gadis
kecilnya tanpa ada kemauan untuk segera meraih anaknya. Cukup lama. Beberapa
menit adegan ini berlangsung. Si ibu tetap sabar dan keras hati untuk
menunggu anaknya menyelesaikan sendiri rasa shock dan sakitnya. Setelah
beberapa menit berlalu, akhirnya si gadis kecil mulai berusaha berdiri lagi,
dan dengan bantuan kecil tangan ibunya dia kembali berdiri. Masih sambil
terisak-isak ia pun berjalan lagi.
Dalam benak saya waktu itu, kok tak punya hati ibu si gadis kecil ini? Tega
membiarkan anaknya dalam kondisi kesakitan. Ingatan langsung terbang ke
Indonesia . Jika kejadian yang sama terjadi di Kota Jakarta ataupun
Yogyakarta , saya yakin si ibu pasti akan langsung meraih dan menggendong
untuk menenangkan anaknya.
Dari adegan itu, bisa kita bayangkan perbedaan cara pengasuhan anak Jepang
dan anak Indonesia . Dari pengamatan saya selama hampir setahun tinggal di
Jepang, anak Jepang cenderung dibiasakan dari kecil untuk mengatasi berbagai
kesulitan sendiri, sementara anak Indonesia selalu disediakan asisten untuk
mengatasi kesulitannya. Babysitter atau pembantu rumah tangga pun tidak ada
dalam kebiasaan keluarga-keluarga di Jepang. Sebaliknya di Indonesia,
khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta , Bandung , Yogyakarta dan
lain-lain kehadiran mereka wajib ada sebagai asisten keluarga maupun sebagai
asisten anak-anaknya.
Dalam sebuah studi perbandingan yang dilakukan oleh Heine, Takata dan Lehman
pada tahun 2000 yang melibatkan responden dari mahasiswa Jepang dan
mahasiswa Kanada dinyatakan bahwa mahasiswa Jepang lebih tidak peduli dengan
inteligensi dibandingkan orang Kanada. Hal ini disebabkan orang Jepang lebih
menghargai prestasi didasarkan pada usaha keras daripada berdasarkan
kemampuan inteligensi. Artinya, bagi orang Jepang kemauan untuk menderita
dan berusaha keras menjadi nilai yang lebih penting daripada kemampuan dasar
manusia seperti inteligensi.
Dalam keseharian dengan mudah kita dapat menyaksikan mereka selalu berjalan
dalam ketergesaan karena takut kehilangan banyak waktu, disiplin dan selalu
bekerja keras. Suasana kompetitif dan kemauan untuk menjadi yang lebih baik
(yang terbaik) sangat menonjol. Studi ini juga menemukan bahwa orang Jepang
memiliki budaya kritik diri yang tinggi, mereka selalu mencari apa yang
masih kurang di dalam dirinya. Untuk kemudian mereka akan segera memperbaiki
diri.
Lain lagi Indonesia , yang saat ini terjebak dalam kesalahan umum di mana
hasil akhir menjadi segala-galanya. Hasil akhir lebih dihargai dibandingkan
usaha keras. Tengok saja kompetisi yang terjadi dari anak usia sekolah
tingkat SD hingga perguruan tinggi untuk mendapatkan nilai kelulusan yang
tinggi. Guru, orang tua maupun masyarakat umum selalu menekan anak untuk
mendapatkan nilai kelulusan yang tinggi, sehingga mereka pun menghalalkan
segala cara. Kita baca di koran polisi menangkap para guru karena berlaku
curang dalam ujian nasional, sementara di tempat lain orang tua membeli soal
ujian, siswa menyontek dan lain sebagainya.
Pola pengasuhan ini, pada gilirannya pasti berperan besar dalam pembentukan
karakter anak dalam perkembangan berikutnya. Oleh karenanya, memberi
kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk mengembangkan semua potensinya
adalah satu prinsip dasar dari satu pola pengasuhan yang sangat baik bagi
pembentukan karakter anak. Orang tua, asisten, atau pun orang yang lebih
dewasa jangan mengambil alih tanggung jawab anak.
Sebagai contoh, beri kesempatan pada anak untuk belajar makan secara benar
dengan tangannya sendiri sejak dia mampu memegang sendok. Jangan diambil
alih hanya karena alasan akan membuat kotor. Atau beri kesempatan pada anak
untuk menghadapi dunia sekolah pertama kali tanpa banyak intervensi dari
pengasuh maupun orang tua. Memberi rasa aman pada anak memang penting jika
diberikan pada saat yang tepat. Tetapi menunggui anak selama dia belajar di
sekolah adalah pemberian rasa aman yang tidak perlu. Momen ini adalah momen
penting bagi anak untuk belajar menghadapi dunia di luar rumah tanpa bantuan
langsung orang-orang di sekitarnya.
Pengalaman anak merasa mampu menghadapi persoalan dengan kemampuannya
sendiri akan menumbuhkan kepercayaan diri. Oleh karena itu, orang tua
sebaiknya membatasi diri hanya menjadi partner diskusi yang membantu anak
menemukan berbagai kemungkinan solusi. Orang tua kadang harus berteguh hati
membiarkan anak mengalami rasa sakit, menderita, dan rasa tertekan dalam isi
dan porsi yang tepat, karena hal itu akan sangat baik untuk perkembangan
mental anak.
Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan hidup dan
tidak mudah menyerah. Hargai anak bukan dari hasil akhirnya melainkan dari
proses perjuangannya. Anak perlu diberi pembelajaran (dan juga orang tua
perlu belajar) untuk bisa menikmati dan menghargai proses, meskipun proses
seringkali tidak nyaman.
Dr. Christina Siwi Handayani, Staf Pengajar Fakultas Psikologi, Universitas
Sanata Dharma, Yogyakarta
Minggu, Maret 29, 2009
Padang Mahsyar
Setelah manusia dibangkitkan dari alam kubur oleh Allah SWT, maka
manusia akan digiring secara bekelompok-kelompok dengan bertelanjang
kaki, tidak berpakaian me-nuju tempat yg disebut Padang Mahsyar
yaitu tanah berpasir putih dan sangat datar dimana tidak terlihat
lengkungan maupun tonjolan ...
Di Padang Mahsyar tsb berkumpulah semua mahluk Allah SWT yg berada
di tujuh lapis langit dan bumi termasuk malaikat, jin, manusia, setan,
binatang melata, binatang buas dan burung-burung, dimana mereka
berkumpul berdesak-desakan.
Matahari dan bulan padam sehingga bumi dalam kegelapan dan takala
mereka dalam keadaan demikian, langit di atas mereka berputar-putar
dan meledak pecah berke-ping-keping selama 500 tahun sehingga langit
terbelah dengan segala kekuatannya kemudian meleleh dan mengalir
bagaikan perak yg dipanaskan hingga berwarna merah dan manusia
bercampur baur seperti serangga yg bertebaran dalam keadaan telanjang
kaki, tidak berpakaian dan berjalan kaki.
Seperti dalam sabda Rasulullah Saw ; Pada hari kebangkitan tsb
manusia akan dibangkitkan dalam 3 kelompok :
* kelompok yg berkendaraan,
* kelompok yg berjalan kaki dan
* kelompok yg berjalan dengan wajahnya.
Seorang sahabat bertanya bagaimana mungkin mereka bisa berjalan
Dengan wajah mereka ya Rosulullah..? Beliau menjawab ; Allah SWT yg
menjadikan mereka berjalan dengan kaki, pasti mampu membuat mereka
berjalan dengan wajah. Subhanallah....!
Kemudian matahari diterbitkan oleh Allah SWT tepat di atas kepala
mereka dengan jarak hanya 2 busur sehingga manusia terpanggang oleh
teriknya matahari yg intensitas panasnya telah dinaikkan dan
keringatpun mengalir deras hingga menggenangi pa-dang kiamat seiring
dengan rasa takut yg luar biasa krn mereka akan dihadirkan di
hadapan Allah SWT.
Keringat tsb naik ke badan mereka masing-masing sesuai dengan
tingkatan mereka di hadapan Allah SWT. Bagi sebahagian orang
keringat akan menggenang mencapai lutut, bagi sebagian lain mencapai
pinggang dan bagi sebagian lainnya mencapai lu-bang hidung bahkan ada
sebagian manusia nyaris tenggelam di dalamnya.
Kita tidak tahu setinggi apakah keringat kita nanti, karena keringat
yg belum kita cucur-kan untuk berjuang di jalan Allah SWT seperti
melaksanakan ibadah haji, jihad, puasa, sholat di malam hari,
memenuhi kebutuhan seorang muslim dan menanggung akibat dari
menegakkan amar makruf nahi mungkar, akan dialirkan keluar oleh rasa takut dan malu
di padang kiamat nanti. Subhanaalah..!
Oleh karena itu marilah kita renungkan,bahwa pada saat kita di
padang mahsyar nanti, derita yg akan kita rasakan sangat berat padahal
semua ini terjadi sebelum kita menja-lani pemeriksaan ataupun hukuman yg
akan kita terima dari Allah SWT atas dosa kita
Mudah-mudahan kita digolongkan pada golongan yang sangat sedikit
berkeringat di padang mahsyar nanti dan mudah-mudahan gambaran ini
akan menambah rasa taqwa kita kepada Allah SWT..Amien...!
Catatan: Dikutip dari Buku Metode menjemput maut Karangan Al Ghozali
manusia akan digiring secara bekelompok-kelompok dengan bertelanjang
kaki, tidak berpakaian me-nuju tempat yg disebut Padang Mahsyar
yaitu tanah berpasir putih dan sangat datar dimana tidak terlihat
lengkungan maupun tonjolan ...
Di Padang Mahsyar tsb berkumpulah semua mahluk Allah SWT yg berada
di tujuh lapis langit dan bumi termasuk malaikat, jin, manusia, setan,
binatang melata, binatang buas dan burung-burung, dimana mereka
berkumpul berdesak-desakan.
Matahari dan bulan padam sehingga bumi dalam kegelapan dan takala
mereka dalam keadaan demikian, langit di atas mereka berputar-putar
dan meledak pecah berke-ping-keping selama 500 tahun sehingga langit
terbelah dengan segala kekuatannya kemudian meleleh dan mengalir
bagaikan perak yg dipanaskan hingga berwarna merah dan manusia
bercampur baur seperti serangga yg bertebaran dalam keadaan telanjang
kaki, tidak berpakaian dan berjalan kaki.
Seperti dalam sabda Rasulullah Saw ; Pada hari kebangkitan tsb
manusia akan dibangkitkan dalam 3 kelompok :
* kelompok yg berkendaraan,
* kelompok yg berjalan kaki dan
* kelompok yg berjalan dengan wajahnya.
Seorang sahabat bertanya bagaimana mungkin mereka bisa berjalan
Dengan wajah mereka ya Rosulullah..? Beliau menjawab ; Allah SWT yg
menjadikan mereka berjalan dengan kaki, pasti mampu membuat mereka
berjalan dengan wajah. Subhanallah....!
Kemudian matahari diterbitkan oleh Allah SWT tepat di atas kepala
mereka dengan jarak hanya 2 busur sehingga manusia terpanggang oleh
teriknya matahari yg intensitas panasnya telah dinaikkan dan
keringatpun mengalir deras hingga menggenangi pa-dang kiamat seiring
dengan rasa takut yg luar biasa krn mereka akan dihadirkan di
hadapan Allah SWT.
Keringat tsb naik ke badan mereka masing-masing sesuai dengan
tingkatan mereka di hadapan Allah SWT. Bagi sebahagian orang
keringat akan menggenang mencapai lutut, bagi sebagian lain mencapai
pinggang dan bagi sebagian lainnya mencapai lu-bang hidung bahkan ada
sebagian manusia nyaris tenggelam di dalamnya.
Kita tidak tahu setinggi apakah keringat kita nanti, karena keringat
yg belum kita cucur-kan untuk berjuang di jalan Allah SWT seperti
melaksanakan ibadah haji, jihad, puasa, sholat di malam hari,
memenuhi kebutuhan seorang muslim dan menanggung akibat dari
menegakkan amar makruf nahi mungkar, akan dialirkan keluar oleh rasa takut dan malu
di padang kiamat nanti. Subhanaalah..!
Oleh karena itu marilah kita renungkan,bahwa pada saat kita di
padang mahsyar nanti, derita yg akan kita rasakan sangat berat padahal
semua ini terjadi sebelum kita menja-lani pemeriksaan ataupun hukuman yg
akan kita terima dari Allah SWT atas dosa kita
Mudah-mudahan kita digolongkan pada golongan yang sangat sedikit
berkeringat di padang mahsyar nanti dan mudah-mudahan gambaran ini
akan menambah rasa taqwa kita kepada Allah SWT..Amien...!
Catatan: Dikutip dari Buku Metode menjemput maut Karangan Al Ghozali
Langganan:
Postingan (Atom)
